Oleh : Dr. Rizali Hadi, MM - Suatu hari kira-kira tahun 1910-an di ladangnya satu   keluarga, orang di panen Mereka ramai-ramai sekeluarga memanen padi.

Seorang anak bernama Marjunit dari keluarga mereka ditinggal di pondok “hubung” karena masih kecil berumur kira-kira 4-5 tahun. Waktu tengah hari istirahat siang, mereka heran kenapa anak ini tidak ada dalam hubung. Setelah dicari dan dipanggil-pangil juga tidak ada sahutannya. Tiba-tiba mereka menemukan sesisir pisang yang berhanburan di sekitar hubung tadi. Muncullah kecurigaan jangan-jangan anak ini dingayau orang. Kira-kira anak ini diumpan, diiming-imingi akan diberikan pisang, dan setelah mendekat, anak ini ditangkap, dibekap, supaya tidak bersuara, terus dibawa lari oleh kayau.

Dicarilah informasi siapa yang ada melihat orang asing mencurigakan yang masuk daerah Samba Bakumpai ini. Dari beberapa informasi, yang simpang siur bahwa ada satu daerah yang siap untuk melaksanakan tiwah. Kemudian diselidiki ke suatu tempat yang mencurigakan. Kebetulan ada acara membunuh anak itu yang diikat pada satu tiang, badannya dilumuri henda, kunyit, dipalas berbagai darah binatang, dan ada semacam ritual “proses pembunuhan kayau” yang dimulai tombakan dengan jarum. Kurir ini tidak sanggup lagi menyaksikannya, dan pulang membawa ceritera itu.

Penulis dapat ceritera isu itu waktu masih anak-anak, pada kira-kira tahun 1959-1960 dalam suatu perjalan mudik berkayuh bersama beberapa orang, ketika melewati suatu tempat, ada yang menunjukkan satu bebukitan tempat pelaksanaannya, sambil menceriterakan kronologis kejadian mengerikan itu. Kenapa harus anak kecil yang dijadikan syarat pelaksanaan tiwah, padahal konon itu adalah untuk jipen di alam sana. Kalau anak-anak yang dibunuh, bukannya tanda kesatriaan mamut menteng, itu adalah tindakan pengecut.

Ada juga ceritera H. Harmin, kata beliau, juga ada anak yang sempat dibawa oleh pengayau, yang juga menculik anak kecil di sekitar perladangan Samba Bakumpai. Setelah mengetahui kalau anak ini baru diculik, kemudian anak itu langsung dicari dengan mengepung lokasi sekitar ladang itu, dan anak serta   pengayau ini sempat terkepung, dan anak itu dilepaskan, anak itu selamat, panjang umurnya.Tidak ada tindak lanjut masalah hukum, walaupun telah diketahui pelakunya.

Ada juga ceritera dari H.Langa di Samba Katung bahwa hilangnya anak yang bernama Marjunit ini tidak seluruhnya peristiwa pengayauan. Tersebutlah di Tumbang Samba seorang laki-laki kawin dengan perempuan dari kampung lain. Setelah kawin, si suami pergi berusaha satiar merantau beberapa bulan. Setelah pulang ia menemukan isterinya sedang hamil, dia heran maka sebelum berangkat isterinya tidak ada tanda-tanda kehamilan lazimnya,   dan ditinggalkan dalam keadaan mens. Karena itu suaminya
tidak mengakuinya sampai bersumpah. Terjadi keributan dan pembicaraan seantero kampung. isterinya menjadi malu, mereka bercerai dan isterinya kembali ke kampungnya, yang ternyata kemudian kawin dengan lelaki lain   orang yang memang menghamilinya. Sakit hati dan malu   mantan isterinya   ini rupanya tidak pernah hilang. Setelah cerai dengan isterinya, mantan suami ini   kawin lagi di Tumbang Samba juga dengan perempuan dan waktu itu memperoleh anak tiga orang.

Nah ada kemungkinan yang menculik Marjunit ini adalah mantan isterinya dahulu atau bersama orang lain, atau atas suruhannya, apakah ada kaitannya dengan kayau mengayau walauhualam. Karena tidak lama setelah itu ada acara tiwah di suatu desa, lalu ada spekulasi pendapat bahwa hilangnya Marjunit sebagai korban kayau untuk tiwah itu. Kasus ini tidak pernah terungkap secara pasti.

 

Buku : Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan, Karya Dr. Rizali Hadi, MM

© 2018 Terukur.com
Design by schefa.com