Oleh : Dr. Rizali Hadi, MM - Pedagang Bakumpai yang awal mulanya adalah pedagang yang menghubungkan Marabahan atau Banjamasin dengan penduduk di sepanjang Sungai Barito,

mudik membawa barang-barang keperluan hidup sehari-hari, dan milir membawa segala hasil hutan untuk dijual kepada para toke Cina atau pedagang Belanda serta pedagang asing lainnya di Marabahan dan Banjarmasin. Pedagang Bakumpai sebagai pedagang yang ulet telah ditulis oleh Niewenhuis (1894) sebagai laporan perjalanannya dari Pontianak ke Samarinda, yang bertemu dengan Pedagang Bakumpai di sepanjang Sungai Mahakam. Kemudian Schwaner juga telah menulis bahwa orang Bakumpai ditakdirkan memiliki kecakapan dalam perdagangan di sepanjang Sungai Barito, seperti yang ditulisnya dalam laporan perjalanannya (1840-an ).

Namun pandangan stereotype tentang orang Bakumpai yang culas, suka berbohong, mencuri dan pemberontak, tidak berkaitan dengan profesi orang Bakumpai sebagai pedagang. Pandangan seperti itu nampaknya sangat berkaitan dengan keterlibatan orang Bakumpai dalam Perang Barito. Dalam peperangan Belanda biasa menjalankan cara licik, berdusta, merampas, bahkan membunuh. Cara seperti ini nampaknya juga dibalas oleh orang Bakumpai, seperti yang ditulis oleh Gazali Usman (1994). Ada mata-mata Belanda yang menyaru sebagai pedagang yang mengikuti gerak-gerik orang Bakumpai, dan terhadap mata-mata ini akan dihabisi oleh orang Bakumpai, seperti yang diinformasikan oleh Waddin (2015), sesuai dengan ceritera kakeknya H. Aspar atau H. Lipai, jangan sampai didahului.

Pangeran Antasari, Sultan Muhammad Seman yang merasa masih berkuasa atas wilayah Sungai Barito telah menunjuk Tumenggung Surapati dan anak buahnya mengawasi dan mengendalikan pemerintahan sepanjang Sungai Barito, termasuk menarik pajak sesuai dengan ketentuan sultan. Penarikan pajak yang kadang-kadang dengan kekerasan, ditangkap oleh Schwaner sebagai pencurian, perampasan dan semacamnya. Bagi orang-orang yang sudah pro Belanda, yang menganggap Barito sebagai kekuasaan Belanda, menyebutkan bahwa perbuatan Temanggung Surapati dan anak buahnya yang betindak atas nama dan cap sultan dianggap sebagai pembangkangan.

Apalagi setelah pecahnya perang terbuka antara Temanggung Surapati terhadap Belanda pada beberapa tempat sepanjang Sungai Barito, hingga tenggelamnya Kapal Perang Belanda Onrust, membuat kemarahan Belanda memuncak, berusaha dengan segala cara memusuhi orang Bakumpai yang terlibat dalam peperangan dimana saja yang disebut oleh Setia Budhi (2014) sebagai pengejaran tanpa batas. Dalam perdagangan orang Bakumpai tidak berbuat negatif seperti itu seperti itu, tetapi lebih kepada kultur sesama Dayak, budaya “laku tenga” meminta dan memberi, karena merasa saling menguntungkan.

Penduduk pedalaman merasa diuntungkan bisa memperoleh barang-barang yang susah diperoleh seperti garam dan tembakau, dan menukarnya dengan hasil hutan yang dengan mudah mereka peroleh. Pedagang Bakumpai pun demikian, merasa beruntung dapat mengumpulkan hasil hutan yang kelak bisa dibawa milir ke Marabahan atau Banjarmasin. Pedagang Bakumpai sanggup melakukan perdagangan meninggalkan kampung halaman berlama-lama, bahkan menetap sementara membuat rakit, pedukuhan dalam mengumpulkan hasil hutan. Pedukuhan-pedukuhan itu banyak yang berkembang menjadi perkampungan, koloni orang Bakumpai. Schwaner menyebutkan bahwa kebiasaan orang Bakumpai mengelompok ini sebagai suatu kebiasaan yang tidak menyatu berintegrasi dengan penduduk setempat. Padahal banya pertimbangan mengelompok tersebut, antara lain membuat pertahanan dari gangguan penyerangan, dan supaya tidak bersinggungan berbenturan dengan penduduk setempat, karena perbedaan kepercayaan karena umumnya orang Bakumpai adalah muslim.

Orang Bakumpai menganggap mereka merdeka dan selalu taat kepada pemerintahan di Bakumpai, Marabahan, atau ketemanggungan, karena mengganggap bahwa mereka bukan bagian dari pemerintahan Belanda. Pemahaman merdeka ini sangat kuat apalagi selama berlangsungnya Perang Barito, seperti yang dilihat oleh Schwaner. Pedagang Bakumpai sanggup melakukan perjalanan panjang berkayuh sepanjang sungai yang kadang melalui riam-riam berbahaya.

Pedagang Bakumpai memudiki sungai-sungai yang masih rawan dalam pusaran asang kayau dan serangan secara halus atau magis. Keadaan seperti ini juga dihadapi oleh pedagang Bakumpai ketika memasuki sungai Katingan. Rintangan berbahaya itu dimulai dari mengarungi laut dari muara Barito, muara Kapuas, Muara Kahayan sampai muara Katingan, yang menurut informasi dari Prof. Lambut (2015) merupakan daerah “Burung Lapas” yaitu daerah kekuasaan lanun bajak laut, yang selalu mengintai. Memasuki sungai Katingan demikian juga menghadapi tanah Dayak yang masih dalam suasana asang kayau. Orang Dayak selalu waspada terhadap orang baru yang masuk ke wilayahnya, yang juga berprinsip jangan sampai didahului. Kesamaan asal usul Dayak, kesamaan bahasa dan budaya membuat orang Bakumpai lebih mudah bersosialisasi, dibandingkan orang Negara, orang Kelua, orang Banjar. Orang Bakumpai lebih banyak melakukan pendekatan kekeluargaan, angkat pahari menjadi saudara dengan suatu upacara adat, sehingga kedua belah pihak merasa lebih aman.

 

Sumber : Dr. Rizali Hadi MM dalam bukunya Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan

© 2018 Terukur.com
Design by schefa.com