Dengan kedatangan anak isterinya, kehidupannya semakin mapan, apalagi Diyang Baruh itu adalah keturunan bidan, dukun kampung, yang banyak membantu pesalinan di Tumbang Samba Menurut ibunda penulis, H. Siti Halimah, bahwa yang menjadi bidan penulis dilahirkan adalah Datu Diyang Baruh ini, waktu itu Subuh Jum’at tanggal 11 Mei 1951, ayahnda Mukalbi menjemput beliau untuk membidani proses kelahiran. Waktu sampai ke rumah kakek H. Marzuki, Datu Diyang Baruh berceritera, Yut aku ini sudah tuha kada tapi kawa ku lagi mambidani urang, ini terakhir kalu aku mambidani ikam. Buyut kata beliau memanggil ibu, aku ini sudah tua, rasa tidak mampu lagi membantu kelahiran orang, mungkin jadi bidan kali ini yang terakhir. Betul juga setelah itu beliau tidak mampu lagi datang membidani orang melahirkan. Waktu acara pemotongan tali pusat pun beliau seperti ingin cepat selesai, sudah siap dengan sembilu dan daun sirih, lalu memanggil ayah penulis, Kalbi siapa jua ngaran anak ikam ini, tapi entah bagaimana agak terlambat datang karena banyak kerumunan orang yang hadir, ini kungarani Utuh haja lah, kena ikam ganti lawan nang bagus lagi, riiiiis tali pusat itu dipotong dengan sembilu. Ayah yang mau menyebutkan nama Rizali Hadi agak sulit karena beliau pendengarannya sudah menurun, mau ditulis beliau juga akan sulit membacanya.

Pambakal Jamal menjabat sebagai pambakal Kampung Bakumpai yang masih menjadi satu dengan Kampung Katung dari tahun 1900 sampai tahun 1930 yang kemudian diganti dilanjutkan oleh Muhammad Hasyim anak H. Abul Hasan dari isterinya Kumbu. Kemudian Hasyim digantikan lagi oleh Matseh atau Unggal Maseh, anak Datu Esah dan suaminya Matyasin orang Negara dari Kahayan. Matseh menjadi Pambakal beberapa tahun, kemudian pada tahun 1938 digantikan oleh Anang, anak Pambakal Kapas, pambakal yang pertama. Selama Pambakal Anang Kapas, diupayakan mendirikan Sekolah Arab dengan mendatangkan beberapa guru agama, dan terakhir Guru Huderi Aripadli dari Mendawai. Guru Huderi yang datang isterinya Imun (Muntiara) yang tidak mempunyai anak dan membawa Mukalbi sepupu Imun ikut membantu mengajari anak-anak di Arab Ini yang disebut Arabic School. Guru yang lain adalah Isnin Alwi atau Guru Lui yang mengajar bahasa Belanda. Menurut ayahnda Mukalbi beliau membantu mengajari mengaji mulai dari Alif-alifan, yang muridnya rata-rata seusia, antara lain beliau sebutkan Najib ayahnya Purnama, Rasidah isteri Sengkon Iwi atau   mamanya Syahrul, Mala Galuh Purnamawati, H. Barlian isterinya H. Murhaini atau ibunya Unyew Rustinah, dan banyak yang penulis tidak ingat lagi. Sayang sekolah ini kemudian oleh Belanda dianggap sebagai sekolah liar, tidak didaftarkan sebagai sekolah resmi, dan entah bagaimana penduduk Kampung Bakumpai tidak mengurus dan melengkapi persyaratannya, kemudian sekolah Arab ini berhenti, dan oleh pemerintahan waktu itu gedung sekolahnya ditempati oleh Volkschool (Sekolah Rakyat) tiga tahun.

Sekolah Arab dua tahun ini berdiri kira-kira tahun 1935 dan hanya bertahan kira-kira sembilan tahun yang kemudian dibubarkan karena dianggap tidak ada izin, yaitu semasa Kiayi Enan Babu. Dalam jabatannya sebagai Pambakal, Anang Kapas juga membangun pasanggerahan, yaitu tempat penginapan transit untuk orang yang bepergian, merantau manamuei, yang kemalaman di Tumbang Samba. Dalam balai pasanggerahan itu disediakan tikar alas tempat tidur dan kelambu gantungnya, pelita dan minyaknya, kenceng, panci, cirat. Ada dapur perapian memasak dan gayung tempat air. Keberadaan pesanggerahan ini membuat Tumbang Samba menjadi ramai menerima kunjungan penduduk sekitar daerah hulu dan hilir Tumbang Samba sampai ke Muara, bahkan yang dari Kahayan dan Mentaya. Terutama bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga yang didatangi. Pambakal Anang ini pekerjaan beliau adalah Tukang Emas, atau pengrajin emas,   Kamasan, sehingga beliau juga terkenal dengan Anang Kamasan selain sebagai Pambakal Anang. Selama jabatan beliau juga terjadi pembentukan BPRI/TKR dan di Tumbang Samba, beliau kuat perhatiannya dalam dunia pendidikan agama.   Pernah menjadi penghulu dan pengurus mesjid di Samba Bakumpai. yaitu ada mandat dari BPRI/TKR di Mendawai menuju Marmayah Hasim untuk membentuk Badan Pemerintahan juga di Tumbang Samba. Surat Mandatnya dibawa oleh Hudri Aripadli dan Ukam.

Kemudian terbentuklah BPDRI (Badan Pemerintah Daerah) dengan Presiden Daerahnya adalah H. Durasit serta wakilnya Anang Kapas, yaitu setelah tersiarnya berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun 1946, dan Balai atau Pasanggrahan ini menjadi Kantor Sekretariatnya, yang kantornya dipimpin oleh Incun Mahin dan Ahmadal. Kemudian pada tahun 1949 juga menjadi markas GRRI Gerakan Revolusi Republik Indonesia yang dipimpin oleh Kiyai Basuni Mandar. Pengibaran pertama bendera merah putih dilakukan di depan rumah Marmayah Hasim dengan membuat bendera yang kain merahnya diperoleh dari Bawi isteri Abdul Jalil, dan kain putihnya dari kain sajadah pasujudan mesjid. Selama dan dimulai masa jabatan Anang Kapas ini kapal-kapal dagang bermesin mulai berdatangan. Kalau sebelumnya dimulai Kapal Harmin, Kapal Albertina milik Koey An, kemudian diganti menjadi kapal Beruntung, Batuah yang di lanjutkan oleh anaknya Kiang. Masuk pula kapal Hap Guan, Kapal Korsen. Setelah itu masuk pula kapal-kapal tunda milik Perusahaan Kayu Brensel dari Sampit. Kapal-kapal Dagang dari Sampit Banjar banyak pula yang masuk, seperti Mas Berlian. Kapal-kapal Cina Sampit seperti Madiun, Solo, Hang Tuah, milik toke-toke Cina, Kalimantan, Medan milik Sin Cong. Kapal milik orang Samuda seperti Masraya Baru, Bintang Asia, Harapan Baru, Siti Nurma, Hidup Baru, Tenaga Baru, Kota Baru, Masa Baru, Suka Baru, Dinar,   Kapal Sampurna milik Wan Alwi, dan lain-lain yang menjadikan perdagangan menjadi semakin berkembang.

Masyarakat giat berkebun rotan, berkebun karet pada bekas-bekas ladang mereka. Dalam hal keagamaan, karena penduduknya sudah banyak, didirikanlah sebuah mesjid dari tanah waqaf Hj. Sari Banjar dan keluarga, beserta sebagian besar material bahan-bahan membangunnya. Sayang lokasi mesjid yang di tepi sungai ini tanahnya runtuh tergerus air waktu banjir, sehingga mesjid harus dipindah ke darat lagi, maka dibangunlah mesjid seperti gambar di bawah ini pada tahun 1953/1954. Untuk membangun mesjid ini dibentuk panitia pelaksana adalah Untak Rangga, dan kepala tukangnya adalah Mukalbi. Penanggung jawabnya adalah Kiyai Basuni Mandar, dimana sebagian besar pembangunan mesjid ini dikerjakan secara gotong royong. Mesjid ini diberi nama Mesjid Jami Assolihin. Bangunan atas, kubah mesjid Kubahnya oleh Mukalbi dirancang meniru Mesjid Jami di Banjarmasin. Mesjid ini sudah dibongkar, diganti dengan mesjid yang baru di sebelah timurnya.

ini sebelumnya sudah ada, dan yang terlihat dalam gambar ini adalah perbaikan yang kedua setelah Mukalbi melihat langsung dan naik ke atas Mesjid Jami di Banjarmasin tahun 1956. Mesjid inipun tanahnya kemudian hampir   dikejar runtuh karena digerus air banjir, terpaksa dibongkar lagi dan dibangun mesjid baru. Apakah kemudian mesjid yang dibangun ketiga kali ini nanti akan dikejar runtuhnya tanah pantai mesjid karena banjir lagi, mudah-mudahan tidak. Selanjutnya pambakal silih berganti Pambakal Iram atau Ramli Muhammad, kemenakan Pambakal Jamal, dilanjutkan dengan Pambakal Syamsuddin Iwi, Pambakal Najib, Pambakal Untak Rangga, Pambakal Mursalin, Pambakal Digun, Pambakal Muslimin, Pambakal Murjani, dan Pambakal Kasim.

 

Penulis : Dr. Rizali Hadi, MM (2015) Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan.

© 2019 Terukur.com
Design by schefa.com