Ilmu-ilmu semacam itu, terutama dalam keadaan terdesak dan mendapat ancaman. Uman seorang mantan pejuang di Tumbang Samba menceriterakan bagaimana caranya orang balampah, yaitu pergi ke hutan sepi, membuat pondokan dengan bekal tujuh gantang beras dan membawa lampu pelita. Setiap malam tidur sendiri sambil melihat menghadap lampu sampai tertidur. Bila “diperkenankan” akan datang cobaan seperti datangnya angin, terdengar suara menakutkan, datang jutaan semut, datang orang yang badannya besar dan menyeramkan. Bila tidak diperkenankan, habis tujuh gantang beras itu tidak didatangi atau ditemui “sahabat” itu. Bila yang balampah ini lulus dari segala ujian, akan datanglah menyerupai orang dan bertanya, apa yang akan diminta, apa kekuatan (gancang), ilmu kebal (taguh), ilmu halimun menghilang (lilap) dan sebagainya yang biasanya hanya boleh meminta salah satunya. Ilmu-ilmu semacam ini hampir semuanya bawaan dari Bakumpai. Banyak yang telah menunjukkan ketinggian ilmunya seperti mampu mengangkat jukung sendirian, bisa meloncat sungai, tidak mempan peluru, tidak mempan ditimpas atau ditombak, bisa menghilang tidak terlihat, bisa terbang, bisa menyelam lama, seperti film silat saja.   Namun demikian ada kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh yang bersangkutan selama menjalin persahabatan itu.

Sekarang ilmu-ilmu seperti ini sudah hampir tidak terdengar lagi, lebih baik menuntut ilmu di sekolah-sekolah, mengikuti perkembangan zaman yang rasional, saintis dan realistis. Kampung Jajangkit dengan jejeran rakit panjang merupakan kampung air. Suatu hari pada tahun 1860 Damang Gaman dari Kuala Kapuas yang wilayah kekuasaannya meliputi Kapuas, Katingan, Mentaya dan Seruyan, datang meninjau sungai Katingan dan Sampai ke Tumbang Samba, melihat Kampung Jajangkit ini. Naluri Damang Gaman sebagai pemimpin dan kepamongannya membawa pemilik-pemilik rakit-rakit itu untuk berunding dan mendengar segala harapan mereka. Akhirnya Damang Gaman sebagai pejabat penguasa memerintahkan dan mengizinkan agar pemilik lanting membuat rumah naik ke darat, membuat perkampungan, membuat jalan kampung. Maka beramai-ramailah pemilik rakit membuat rumah di darat dan mengatur pengaplingan tanahnya, serta membuka tanah untuk perladangannya. Karena kehidupan mereka memang berorientasi kepada sungai, maka di sungai lanting-lanting itu berubah menjadi semacam pelabuhan apung saja, yang biasa disebut “batang”. Beberapa rumah memiliki sebuah batang untuk semacam pelabuhan mereka, tempat menambat jukung, tempat beraktivitas MCK dan menyimpan sementara segala hasil hutan yang mereka kumpulkan.

Sungai Katingan yang boleh dikatakan perawan, sekitar Tumbang Samba itu kaya akan ikan   yang sebutan daerahnya, seperti saluang, banta, salap, behau, tahuman, baung, sanggiringan, sanggang, kalabau, jelawat, bintakuk, acak, masau, jiwah, balida, tampahas, patin merupakan anugerah. Ikan jelawat mempunyai musim bertelur yang rutin menjelang air banjir, ikannya memudiki sungai sampai pertigaan muara sungai Samba dan Sungai Katingan. Ikan itu timbul “mangacepek” melepaskan telurnya. Waktu itulah penduduk menangkapnya dengan “haup” yang dimilirkan mengikuti sungai. Ikan-ikan yang banyak diperoleh ini tentu saja tidak habis dimakan waktu itu, karena itu ikan-ikan ini diawetkan secara basah dengan garam dan sangrai bubuk padi dan lengkuas, menjadi “wadi” yang disimpan dalam tajau belanga yang ditutup rapat dan didempul. Wadi ini dibuka pada waktu banjir besar, karena sudah sulit menangkap ikan seperti biasa. Setelah kampung terbentuk dipilihlah kepala Kampung, dan kepala kampung pertama adalah Datu Kapas, anak Hj. Sari Banjar. Beliau menjadi pambakal lama sekali, sampai beliau uzur baru diganti. Dimasa beliau menjadi pambakal inilah sesuai dengan musyawarah masyarakat tanah sempit antara Tewang Tusur dan Banut Rumbang digali bergotong-royong untuk jalan pintas membawa jukung.

Sebelumnya disitu memang ada rintisan jalan dan ada aliran air dangkal yang biasa digunakan oleh orang-orang dari Telok yang akan mudik ke hulu Katingan atau ke hulu Samba memintas dan lama kelamaan bekas berjalan ini membuat alur aliran air. Untuk memperbesar aluran aair ini kemudian dilaksanakanlah royong tadi yang juga menyertakan penduduk Telok yang juga sangat memerlukan jalan pintas itu, agar tidak lagi memutar melalui Danau Mare. Konon oleh Pambakal Kapas, sepanjang galian parit itu ditanam air raksa dengan maksud agar tanahnya menjadi longgar mudah dikikis oleh air. Betapa gembiranya penduduk Kampung Telok dan kampung-kampung lainnya di bagian hilir dengan adanya parit terusan ini. Perjalanan jukung menjadi lancar, demikian juga orang-orang yang dari hulu, hanya dengan waktu singkat dari Tumbang Samba bisa sampai ke Telok. Menurut cerita Salim, ayahnya Dulmas yang tuna rungu mengatakan kalau milir mendayung jukung gundul milik kakeknya H. Pahar, dari Tumbang Samba jam delapan pagi, menunjuk ke arah matahari terbit sambil memperagakan sepuluh jarinya, dua   dilipat, dan baru sampai di Telok jam empat sore, dengan menunjuk ke arah matahari terbenam sambil memperagakan lima jari, satu jari   dilipat . Berarti   milir dari Tumbang Samba itu ditempuh mendayung dalam waktu delapan jam.

Munurut Norsidi, kata H. Usup, kalau mereka milir mahaup menangkap ikan jalawat yang timbul ke permukaan air melepaskan telurnya disebut   lauk lembut, dari Tumbang Samba milir melalui sungai dan danau Mare melewati Telok sampai Bahangei bisa lebih dari sehari, dan kembalinya ke Tumbang Samba lewat parit mainsung jukung yaitu mendorongnya lewat parit terusan pintas itu. Lama kelamaan, terutama kalau banjir besar, debit air melalui parit itu semakin deras, dan paritnya membesar akhirnya menjadi sungai. Hal yang sama juga dilakukan penduduk dalam membuat terusan di Dehes di sebelah hulu Samba Katung, dibuat parit secara gotong royong yang dipimpin oleh Kiyai Basuni Mandar dan kepala kerjanya H. Marzuki, parit itu juga menjadi sungai berarus deras (badehes). Hal yang sama juga dilakukan membuat pembuatan Terusan Kurung antara Pendahara dan Tumbang Terusan menuju desa Hampalam memintas agar tidak lagi melewati desa Hampalam dan desa Tewang Rangas yang sungainya memutar. Di Kasongan juga dibuat proyek sodetan sungai, untuk jalan pintas dan melindungi Kasongan dari tanah yang terus runtuh dihantam arus, apalagi pada waktu banjir besar. Pambakal Kapas menjadi pambakal lama sekali, sampai beliau uzur, yang kemudian digantikan oleh sepupu sekali beliau yang juga berasal dari Kandangan yaitu Pambakal Jamal pada kira-kira tahun 1900.

Pambakal Jamal ini asalnya datang ke Tumbang Samba itu untuk menjemput sepupunya Kapas dan Bahar untuk kembali ke Kandangan, karena keadaan sudah aman. Mengenai Pambakal Jamal ini ada juga ceritera lain seperti yang diceriterakan cucu beliau Bakran Asmawi, bahwa suatu hari terjadi pertengkaran antara Jamal dengan ayah beliau. Dalam keadaan galau dan serba salah itu, tiba-tiba Jamal ingat kepada sepupu beliau yaitu Kapas di Tumbang Samba, kemuadian beliau pergi tanpa pamit. Kenapa Pambakal Jamal ini tertarik menyusul ke Tumbang Samba, mungkin setelah mendengar kabar tentang Tumbang Samba dari Nini Dara, saudara Kapas dan Bahar yang kembali ke Kandangan. Pambakal Jamal ini pergi ke Tumbang Samba meninggalkan isteri beliau Diyang Baruh dan anak beliau Aisyah atau Esah atau Datu Gudang dan Muhammad. Karena Pambakal Jamal tidak datang-datang, kemudian isteri beliau Diyang Baruh beserta dua anaknya ikut menyusul ke Tumbang Samba. Bakran Asmawi Jamal mengatakan bahwa, dia tabayangkuh macam kueh kaheka Datu Diyang Baruh ewen telu hanak hikau menalih mayupa Datu Jamal kan Tumbang Samba, bi Kandangan akan Banjar, bi Banjar akan Pagatan Mendawai mahalau laut, bi Mandawai murik hindai badayung bateken umba uluh baganti-ganti tumpangan jukung pedagang babulan-bulan mahalau kare Handiwung hanyar sampai kan Tumbang Samba.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana sulitnya Datu Baruh bertiga anaknya mendatangi Datu Jamal ke Tumbang Samba Kandangan ke Banjar, dari Banjar lewat laut ke Pegatan Mendawai, mudik lagi ikut perahu berdayung dan ditanjak, ikut tumpangan perahu dagang berganti-ganti berbulan-bulan melewati seperti Handiwung baru sampai ke Tumbang Samba. Mungkin ini bisa diambil sebagai contoh kesetiaan suami isteri, sepanjang ada caranya dan ada jalannya akan didatangi untuk menyatukan kembali kehidupan keluarga. Memang waktu berangkat menuju Tumbang Samba ada orang yang diikuti oleh Datu Diyang Baruh ini, misalnya minta bantuan keluarga H. Halid atau H. Matsaleh suami kedua H. Sari Banjar,   tapi pengorbanan beliau menempuh perjalanan sejauh itu, kalau tidak disertai niat dan semangat yang kuat tentu tidak akan terlaksana. Menurut isteri Pakacil Saberan, atau Pakacil Aban di Kandangan salah satu juriat keluarga disana, aku ingat waktu bubuhannya handak tulakan, aku lagi kakanakan. Ujar tu tulak ka laut. Esah itu naik bujang, orangnya bengkeng, amun bajalan baurai rambut, bahiritan ka lantai. Aku ingat waktu mereka mau berangkat, aku lagi anak-anak. Katanya mau berangkat ke laut. Esah itu sudah naik remaja, cantik, kalau berjalan dan rambutnya terurai, rambutnya sampai menyentuh lantai. Rupanya Pambakal Jamal ini giat ikut bekerja dan berdagang di Tumbang Samba mengikuti Pambakal Kapas dan H. Bahar.

© 2019 Terukur.com
Design by schefa.com