Oleh : Dr. Rizali Hadi,  MM - Menarik untuk kembali melihat kilas balik berdiri dan perkembangan pedagang Bakumpai menetap dan membentuk koloni di Tumbang Samba.

Menurut catatan tulisan tangan Muntas Arifin, di kampung-kampung sepanjang sungai Katingan masih jarang-jarang kampungnya, dan yang tercatat hanya ada sepuluh lewu atau kampung, yang disebut dengan Lewu Pulu atau Sepuluh Kampung. Setiap kampung dipimpin oleh Temanggung. Keadaan kehidupan antar kampung kalau ada perselisihan atau ada yang diinginkannya akan saling menyerang, mereka saling waspada, dan curiga satu sama lain. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa orang Bakumpai suka mengelompok karena pertimbangan keamanan.

TumbangSamba1924Orang yang pertama bermigrasi   ke Tumbang Samba adalah Datu Hanjan,   ada yang mengatakan berasal dari Kandangan, tetapi banyak juga datang dari Marabahan Bakumpai, datang bersama dengan isterinya yag bernama Datu Munah dari Marabahan. Mereka membuat rakit, lanting talatap yang berusaha mencari rotan, owei langeli getah nyatu, hangkang katiau. Lanting ini dijadikan tempat tinggal dan sebagai tempat menampung hasil hutan yang mereka kumpulkan. Banyak kemudian orang-orang dari Bakumpai yang juga mengadu nasib mengikuti langkah Datu Hanjan terutama diikuti oleh sanak saudara, kemenakan dan kawan sekampung di Bakumpai seperti Matnur, orang tuanya H. Sahari, Afid yang kemudian kawin dengan Diyang Kacil anak H. Bahar, Tarang, H. Mudin, H. Ihan dan Iwi orang tua H. Kamriah, Syamsuddin, Sengkon dan Lantu dan banyak lagi keluarga yang lain. Akhirnya lanting-lanting itu berjejer sampai 50-an lebih. Kemudian, sepupu beliau Hj. Sari Banjar beserta anak-anaknya Kapas, Bahar, Dara, dan Hadijah juga datang juga ke Tumbang Samba. Tidak ada catatan apakah Hj. Sari Banjar ini datang bersama suami beliau yang kedua yaitu H. Matsaleh karena dengan H. Matsaleh ini beliau mendapat anak Bulkasim dan Hadijah.

Bulkasim ini kawin dengan Hj. Asmah orang Mendawai dan beranak Bayah, Umpek dan Senah. Hj. Hadijah ini kawin dengan H. Abdurrahman Matseman Lohong, yang berasal dari Margasari, tetapi tidak dikaruniai anak. H. Abdurrahman kemudian kawin dengan Diyang Kurik anak Kiayi Matseman Pedagang Bakumpai yang kemudian menetap di Tumbang Samba di Kampung Jajangkit, kemudian untuk identitas, menurut Muntas Arifin bahwa waktu itu 90% penduduknya berasal dari Bakumpai atau sebelahnya Bakumpai, menamakan kampungnya menjadi Kampung Bakumpai. Mereka mengisi dan menempati satu kawasan yang sekarang ini meliputi Samba Bakumpai dan Samba Katung.

Penamaan Samba Katung tidak jelas apa usulnya, apakah disana dahulu ada orang yang bernama Utung sehingga disebut eka utung yang artinya tempat Utung kemudian menjadi Samba Katung. Di Samba Bakumpai sebelah hilir disebut juga Banut Rumbang. Banut adalah sebutan untuk tanah rendah yang ditempati oleh orang yang bernama Rumbang, sehingga kemudian disebut Banut Rumbang. Keluarga atau turunan yang banyak menempati Samba Bakumpai dan Katung adalah turunan H. Abul Hasan, turunan Hj. Sari Banjar, turunan H. Musaat, disamping keluarga lainnya yang sebetulnya kait berkait satu sama lain hubungan keluarganya. Di Samba Bakumpai itu sebenarnya hanya orang Bakumpai dan orang Barito, tetapi ada orang Kelua, orang Negara, orang Kapuas, orang Mentaya, orang Kahayan, tetapi di Samba Bakumpai mereka menjadi orang Bakumpai. Bahasa di Samba Bakumpai memang dominan bahasa Bakumpai, walaupun dalam pengucapan dan perbendaharaan kata bercampur-campur dengan bahasa Dayak Ngaju dan Bahasa Banjar. Kebudayaan yang dibawa ke Tumbang Samba oleh orang-orang Bakumpai seperti dari tempat asalnya di Marabahan. Ada upacara badewa   dan balian untuk mengobati orang sakit, termasuk “malabuh balai” memberikan sesajen kepada dewa penguasa air.

Ada acara “manyanggar” untuk membersihkan kampung dari segala malapetaka dan kesialan. Ada acara “manyampir” dengan media wayang memberi sesembahan kepada dewa sangkala. Ada acara “manuping” yaitu acara badewa juga menggunakan orang perantara yang menggunakan tupeng. Kebudayaan, kepercayaan terhadap ritual seperti ini sekarang boleh dikata tidak ada lagi, karena telah banyak mendapat siraman keagamaan oleh para guru agama di sekolah dan mubalig.yang tidak putusnya menyampaikan syi’ar agama. Di Tumbang Samba ada seorang dalang yaitu Muhammad Dadalang namanya, kalau sudah tampil mendalang banyak orang tergila-gila mengikuti ceriteranya yang mempunyai bunga-bunga ceritera sesuai dengan isu apa yang ramai pada saat itu. Kalau di kampung sedang ramai orang berjudi, kelakar dan lelucon dalam ceritera wayangnya tentang perjudian. Kalau di kampung sedang ada acara peringatan 17 Agustus, maka tema dan kembang kisahnya tentang perjuangan. Muhammad Dadalang ini sangat ahli dalam melukis gambar wayang. Kalau ingin membuat wayang, datang saja kepada beliau, minta gambarkan wayang apa yang diminta, beliau dengan cepat menggambarnya. Kertas bergambar ini kemudian ditempel dengan lem pada kulit sapi kering atau bilulang untuk dipahat menggunakan ujung tajam pisau langgei kemudian jadilah wayang. Misalnya Amang Idu, terkenal dengan wayang miliknya Arjuna.

Hasbullah atau Julak Ihas terkenal dengan wayang miliknya Bima Welkudara. Mukri atau Tangah Imuk dengan wayangnya, Buta Raksasa dan Narada. Wayang itu disimpan dalam pati kala di tempat dadalang. Kalau sudah ada berita akan ada pertunjukan wayang orang dari jauh-jauh datang, bahkan yang tidur mangsan di ladang pun pulang. Kalau ada yang belum tahu dan tiba-tiba ada bunyi gendang, gong, orang memainkan wayang, untuk meyakinkannya banyak yang sampai memanjat pohon tinggi untuk memastikan manyareha. Pecandu wayang seperti H. Usup biasanya duduk di depan, kadang-kadang pada saat perkelahian ikut juga menyemangati wayang kesayangannya. H. Usup sangat tidak suka kalau ada penonton yang bicara sok tahu jalan ceriteranya saat pertunjukkan. . Usup akan bicara keras, Mad banci aku mahining ada ji menyahar kesahum hikau, ubah barake, dia rami kareh, Mad katanya memanggil dalang, aku tidak suka mendengar ada yang mendahului jalan ceritera ini, cepat ganti kisahnya, nanti tidak seru. Ada yang mengatakan Muhammad Dadalang ini dari Marabahan belajar mendalang ke Barikin Hulu Sungai, mungkin seguru dengan Dalang Tulur yang sangat terkenal, dan pernah mendalang di Istana semasa Presiden Sukarno. Selain itu ada pula dikenal berbagai ilmu seperti ilmu taguh, ilmu gancang, ilmu mampalemu sanaman, ilmu banihau, yang biasanya diperoleh dari balampah yaitu memang sangat diperlukan pada waktu bersemedi sendiri di hutan atau tempat sepi lainnya untuk bisa memperoleh “sahabat” orang gaib yang bisa membantu kapan saja dan di mana saja.

© 2018 Terukur.com
Design by schefa.com