Oleh : Dr. H. Rizali Hadi, MM - Asal usul orang Bakumpai umumnya dipahami sebagai orang dari hulu Sungai Barito dan Sungai Kahayan yang milir ke muara-muara sungai dan menetap berkembang di Marabahan.

Selanjutnya di Marabahan dan sekitanya mereka berbaur dan membentuk koloni sebagai orang Bakumpai. Mereka tetap berhubungan dengan daerah leluhurnya mudik ke hulu-hulu sungai untuk mencari kehidupan sebagai pencari atau pengumpul hasil hutan. Mereka menyebar memudiki sungai Barito atau sungai Kahayan, tetapi lebih banyak ke hulu Barito. Dari hulu Barito mereka berlanjut mencapai hulu Mahakam di Kalimantan Timur, dan ada juga yang sampai ke hulu sungai Kapuas Kalimantan Barat. Mereka yang menyebar di sekitar pesisir dan muara sungai, banyak yang mengembara ke Bahaur muara sungai Kahayan, atau daerah Lupak muara sungai Kapuas, ke Pagatan Mendawai di muara sungai Katingan, ke Sampit di muara sungai Mentaya, dan ke Kuala Pembuang muara sungai Seruyan. Dari muara-muara sungai ini mereka berdagang mudik ke hulu-hulu sungai tersebut.

b2Menurut Prof. M.P. Lambut, muara-muara sungai tersebut merupakan daerah “burung lapas” artinya siapa saja boleh merampok, membunuh atau saling perang utnuk memperebutkan sesuatu. Disebut burung lapas karena tidak ada hukum yang berlaku, karena di situ merupakan daerah lanun (bajak laut), ada yang datang dari pesisir timur Sumatera, atau datang dari pantai utara Jawa. Keberanian Pedagang Bakumpaibisa melewati muara-muara sungai tersebut   untuk memcapai Katingan tentu dengan bekal ilmu bagaimana menghadapi para lanun tersebut. Selain itu strategi yang dilakukan oleh pedagang Bakumpai adalah berlayar berkonvoi beberapa perahu agar ditakuti oleh para lanun. Anak buah perahu yang sebagian diambil dari orang-orang muara sungai seperti orang Banjar, Kuin, Lupak, Aluh-aluh yang sebagian kenal dengan para lanun tsb. Hal yang sangat bebahaya adalah apabila perahu mati angin dan harus berlabuh lego jangkar yang bisa menjadi makanan empuk para laun yangbisa merampas baranag dagangan. Tempat-tempat berlabuh itu seperti di Ujung Malatayur, Muara Lupak, Cemantan, Sungai Hambawang. Itulah sebabnya perlu mengenal atau berkenln dengan para kelompok lanun tsb, dengan mengikut sertakan orang dari sekitarnya menjadi anak buah perahu.

Dari beberapa penelitian penyebab utama penyebaran orang Bakumpai adalah akibat terlibatnya orang Bakumpai dalam Perang Banjar dan Perang Barito. Sebagian orang Bakumpai yang tidak terlibat secara langsung dalam perang itu mencari tempat yang aman dari konflik sehingga bisa menjalankan usaha perdagangan mereka dengan lebih aman. Apalah artinya berusaha susah payah mencari hasil bumi ke dalam-dalam hutan, mengumpulkan dan menjualnya, kemudian segala hasilnya dijarah dan dirampok atau musnah karena peperangan. Setia Budi (2005) yang menelusuri perpindahan orang Bakumpai ke Mahakam, memperoleh ceritera dari Ni Galuh di Long Iram yang menyebutkan bahwa fase awal orang Bakumpai ke Kalimantan Timur karena tekanan dan situasi Perang Barito tahun 1863. Banyak orang Bakumpai bersama orang Banjar di Puruk Cahu, Muara Teweh, dan Marabahan menyingkir ke Mahakam untuk menghindari perang yang berkecamuk itu.

Orang Bakumpai yang terlibat dalam Perang Barito terutama sesudah pejuang Bakumpai bersama Dayak Siang dan Dayak Ot Danum menenggelamkan kapal perang Belandan Onrust, sejak itu belanda “memburu” tokoh pejuang itu antara lain Temanggung Surapati dan Panglima Wangkang. Pencarian tanpa batas oleh Belanda inilah yang meresahkan penduduk dan akhirnya penduduk memilih menyingkir ke Mahakam, khususnya Long Iram. Alasan yang sama juga menyebabkan orang Bakumpai menyebar ke daerah Kotawaringin di Kalimantan Tengah Penyebab penyebaran yang kedua adalah mereka menemukan tempat baru yang lebih banyak hasil buminya. Getah pohon hangkang, getah katiau dan getah jelutung dan damar adalah berasal dari pohon tumbuhan hutan liar yang tidak ditanam sebagai perkebunan. Tumbuhnya pohon ini menyebar luas secara alami. Terjadi perlombaan dan persaingan menemukannya, menyebabkan penyebaran perdagangan orang Bakumpai dari muara terus mudik ke bagian hulu sungai yang masih perawan dan lebat hutannya.

Setia Budi (2005) juga menyebutkan bahwa Mahakam sejak dulu disebut-sebut sebagai lumbung emas, hutan yang lebat, sarang walet dan kayu gaharu menjadi daya tarik arus migrasi Bakumpai. Perjalanan migrasi orang Bakumpai ke Kalimantan Timur hulu sungai Mahakam melalui Pegunungan Muller sungguh sulit, berjalan kaki, berkayuh di sungai, melalui alam yang masih buas, dan adanya ngayau merupakan ceritera nyata yang mereka alami selama pengembaraan itu. Jauh sebelumnya. Karena ada perselisihan dengan Sultan Muhammad Seman, Temanggung Ecot, anak Temanggung Surapati yang kawin dan berdiam selama 10 tahun di Mahakam Hulu, mengumpulkan hasil-hasil hutan. Ia adalah satu-satunya anggota keluarga Surapati yang tinggal di luar Dusun Hulu. Kehadirannya di Mahakam Hulu menimbulkan problema baru bagi Belanda, karena ia menjadi seorang yang amat berpengaruh di kalangan suku Dayak setempat (Helius Syamsuddin, 2013:359-360).

Selanjunya Helius Syamsuddin (2014:242) menulis bahwa orang-orang Bakumpai menjadi elemen utama dan berpengaruh di antara kelompok-kelompok suku Dayak di sepanjang Sungai Barito.   Dr. A.W. Niewenhuis dalam ekspedisi penjelajahannya melintas Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur dan telah menemukan mereka sangat giat dalam pengumpulan produk hutan dan perdagangan lainnya di daerah Mahakam Hulu. Kehadiran mereka di wilayah ini menimbulkan kekhawatiran besar di antara pejabat-pejabat pribumi dan juga Eropa di Kutai karena persaingan dan pengaruh mereka “meruak” kehidupan penduduk setempat, terutam di kalangan orang-orang Dayak yang masih teguh kepada kepercayaan asli mereka. Di Dusun Hulu orang-orang Bakumpai mendirikan pemukiman-pemukiman pada tempat-tempat strategis dimana mereka dapat dengan mudah mengumpulkan hasil hutan atau melakukan barter atas komuditaskomuditas yang datang dari daerah muara sungai dengan produk-produk hutan yang berasal dari suku-suku Dayak setempat.

Bagaimana perdagangan secara barter ini dimulai dengan adanya pasar bisu, sampai tawar menawar tentang nilai tukar suatu barang (B1 - B2). Umumnya yang dianggap barang dagangan berharga adalah garam dan tembakau, karena di bagian hulu-hulu sungai boleh dikata tidak ada sumber garam, kecuali pada sepan-sepan (yaitu sumber air ain) di pegunungan yang sangat sedikit dan sulit didapat. Kepemilikan garam saat itu menjadi ukuran kekayaan. Ada aorang Dayak yang dianggap kaya di Katingan, karena memiliki “uju balanai tunyu” tujuhtajau garam, yang menunjuukan betapa kayanya orang tersebut. Tembakau juga demikian berharga karen banyak orang Dayak yang sudah kecanduan memakan tembakau, diselipkan di sela-sela gigi geraham sambil menyedot air tembakau tsb yang disebutnya “kicuk”. Mereka menjadi tergantung kepada barang-barang itu, siapa yang menciptakan kebutuhan atau need tsb, mungkin sejak zaman Majapahit dahulu.

 

Penulis : Dr. H. Rizali Hadi, MM dalam bukunya Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan

© 2018 Terukur.com
Design by schefa.com