Orang dayak bakumpai memiliki karakter, watak atau ciri tersendiri di bandingkan dengan suku lainnya. Hal ini lumrah karena tiap-tiap orang atau suku pasti memilik karakter tersendiri.

Namun hal ini menjadi tidak biasa karena Schwaner yang orang Eropa menggambarkan karakter atau watak orang dayak bakumpai secara Negatif yaitu culas, berbohong, membangkang dan tidak mempunyai kecerdasan mental yang cukup. Hal ini dapat penulis bilang ngawur atau tidak berdasarkan objektivitas dan fakta di lapangan.

mahelatlebo1Mungkin penulis dapat memahami tersirat ketidaksukaan atau bahkan raca benci dalam tulisan Schwaner atau orang Eropa khususnya steorotip orang Belanda terhadap perangai dan watak orang dayak bakumpai yang mana secara mental dan perilaku mempunyai watak yang keras menentang dan melawan penjajahan yang dilakukan pihak Belanda yang menjajah dan menguras kekayaan alam khususnya di Kalimantan. Selain itu juga peristiwa peristiwa perang Barito yang berakibat tenggelamnya kapal Onrust yang menjadi kekalahan terbesar Belanda dalam perang Barito.

Peristiwa tenggelamnya kapal perang Onrust ini karena penyerangan dari Tumenggung Surapati yang merupakan pemimpin suku Dayak Siang dan di bantu Panglima Wangkang dari suku Dayak Bakumpai menambah ketidaksukaan Belanda terhadap pejuang-pejuang dari Dayak Bakumpai ditambah lagi dengan adanya kegigihan dan kerasnya perlawanan Panglima Batur dari suku dayak Bakumpai terhadap pihak Belanda.

Tulisan Schwaner secara utuh yang menggambarkan negatifnya watak orang bakumpai dapat dilihat dari tulisan berikut :

Mereka mempunyai karakter yang tidak stabil, yang menjadi suatu gambaran bagi hampir semua penduduk pantai beragama Islam di Borneo (Kalimantan), yang  muncul dari campuran penduduk asli dan kolonis-kolonis luar dan telah kehilangan kebangsaan mereka. Tidak punya pendirian, culas, cenderung berbohong dan mencuri merupakan ciri-ciri utama karakter mereka, yang selagi mereka sehari-hari membuktikan tidak mempunyai kemampuan mental (kecerdasan) yang cukup, menimbulkan dugaan, bahwa dengan latihan yang lebih hati-hati dan kontrol yang lebih kuat seseorang dapat membuat mereka menjadi anggota-anggota masyarakat yang beguna sebagaimana mereka acapkali membuat kerugian dan bahaya melalui kelakukan-kelakuan mereka yang kasar. Semacam semangat suka bermusuhan dan membangkang, tidak saja terhadap orang Dayak yang dilihat dari peradaban kecerdasan mereka di bawah mereka, tetapi juga terhadap tuan mereka, Sultan Banjarmasin, tampaknya sudah menjadi watak mereka sejak zaman dulu. Sejarah telah memberikan kita cukup banyak evidensi mengenai ini. Kita tahu bahwa mereka telah hidup dalam permusuhan berdarah dengan tetangga-tetangga mereka Dayak-Dayak Ngaju dari Mentagi, Batang Murung (Sungai Kapuas Murung), Kuala Lopak dll., sementara kita juga mempunyai berbagai catatan tentang pemberontakan-pemberontakan terhadap keluarga raja mereka (Banjarmasin) dan satu terhadap pemerintah Belanda. (Schwaner dalam Syamsudin, 2014:51).

Schawaner menyebutkan bahwa orang bakumpai culas, ya mungkin karena orang bakumpai dapat memperdaya dan tidak mau tunduk terhadap Belanda. Namun mereka tidak sadar betapa jahatnya mereka pihak Belanda yang ingin menguasai daerah Kalimantan. Hal lainnya adalah culas atau liciknya orang Belanda yang ingin menangkap Panglima Batur yaitu dengan menangkap dan menyiksa keluarga beliau. Dengan perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupu Panglima Batur Belanda berusaha menangkapnya. Atas suruhan Belanda, Haji Kuwit mengatakan bahwa apabila Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan bersedia berunding dengan Belanda, barulah tahanan yang terdiri dari keluarganya dikeluarkan dan dibebaskan, dan sebaliknya apabila Panglima tetap berkeras kepala, tahanan tersebut akan ditembak mati.

Hati Panglima Batur menjadi gundah dan dia sadar bahwa apabila dia bertekad lebih baik dia yang menjadi korban sendirian daripada keluarganya yang tidak berdosa ikut menanggungnya. Dengan diiringi orang-orang tua dan orang se kampungnya. Panglima Batur berangkat ke Muara Teweh. Sesampainya di sana bukan perundingan yang didapatkan tetapi ia ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di meja pengadilan. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu ditawan di Muara Teweh, Panglima Batur diangkut dengan kapal ke Banjarmasin.

Di kota Banjarmasin, dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya dia minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya.

Selain itu Schwaner dalam tulisannya menyebutkan orang bakumpai adalah pencuri, mencuri dalam hal apa?Apaka ketika orang bakumpai mencari damar, rotan atau kayu di hutan yang "tidak bertuan" lalu dianggap sebagai pencuri. Terlihal sekali bahwa tulisan dari Schwaner sangat tendensius untuk menyudutkan orang dayak bakumpai yang terkenal keras dan tidak mau tunduk terhadap penjajahan Belanda di Kalimantan.

Menyebutkan orang Bakumpai sebagai pencuri, sangatlah sulit untuk diterima. Kalau orang Bakumpai memasuki suatu wilayah yang dianggap “tidak bertuan” untuk mencari damar, getah hangkang, katiau atau rotan, pekerjaan mereka ini dianggap mencuri karena ada yang mengklaim bahwa perbuatan itu adalah sebagai pencurian. Pemahaman wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar itu sangat luas yang meliputi aliran sungai dan hutan-hutan di sekitarnya.

Rakyat boleh dan dibenarkan mengambil hasil hutan disitu sepengetahuan Sultan. Hanya ada satu “anggapan” di tanah Dayak apabila satu wilayah telah pernah dimasukinya, misalnya berburu, menuba, berladang atau pernah membuat tanda-tanda tanaman seperti durian, langsat, mempelam,yang tumbuh liar di bekas pondoknya, tanah itu sudah dianggapnya sebagai tanah ulayat “ayungkuh” milik saya. Klaim semacam ini oleh satu pihak bisakah dianggap pencurian. Di tanah Dayak semua orang semua berhati-hati karena masih kuat dengan hal-hal yang bersifat magis. Orang yang mengambil barang orang tanpa izin saja bisa sakit, mati, kena serangan secara halus, bisa kena parang maya, pakihang dan semacamnya. ( Rizali Hadi, 2015:15).

Dari tulisan Schwaner tersebut dan beberapa peristiwa yang terjadi dapat terlihat jelas alasan ketidaksukaan Schwaner tersebut terhadap orang Bakumpai yang jelas karena orang Bakumpai sebagai pembangkang yang keras terhadap pendudukan atau penjajahan yang di lakukan oleh pihak Belanda yang menguras hasil alam khususnya di Kalimantan. Sebut saja pejuang-pejuang dari suku dayak bakumpai yaitu Panglima Batur, Panglima Wangkang, Pembakal Kendet dan masih banyak lagi yang lainnya.

sumber foto : Ezha Hatue Tunggal Nizami http://gawpc.garuda-indonesia.com/p/73180/
sumber tulisan : Syamsudin, Helius (2014). Pegustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Hadi, Rizali (2015). Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan

© 2018 Terukur.com
Design by schefa.com